Mengenal Depresiasi, Sang Pemusnah Kekayaan

Bagi sebagian besar Orang, istilah Depresiasi adalah Kata yg asing terdengar..

Padahal, Depresiasi ini sangat penting kita ketahui karena tanpa sadar, Depresiasi ini bisa memusnahkan kekayaan yg kita punya..

Dalam ilmu akuntansi, Depresiasi adalah Biaya penyusutan Barang atau benda berwujud..

Semua barang atau benda yang bisa berkurang / rusak dengan berjalannya waktu, sebenarnya sedang ‘dirusak’ oleh depresiasi..

Mobil, bangunan (Rumah, kantor, ruko dll), sepeda motor, furniture dll itu termasuk mereka yang terkena depresiasi karena nilainya menyusut terus tahun demi tahun..

Selain barang yang kita punya, Diri Kita pun sebenarnya turut terkena Depresiasi karena kita setiap waktu terus menua..

Dari kenyataan ini, ada 2 pelajaran besar yang harus kita perhatikan :

  1. Kita akan Makin Miskin bila mayoritas ASET kita merupakan asset Non produktif (tidak menghasilkan uang) yang terkena depresiasi
  2. Kita sedang membuang BANYAK UANG ketika waktu kita hidup, tidak digunakan untuk hal yang berarti dan penting

Kenapa Orang yang awalnya sangat kaya dan berpenghasilan tinggi, setelah Tua malah bangkrut dan hidup susah serta menderita?

Orang kaya itu menjadi susah karena disaat ia tengah berada di masa puncak, ia banyak menumpuk ASET NON PRODUKTIF  YANG BISA MENGALAMI DEPRESIASI, seperti mobil mewah, pakaian branded, dan furniture mewah..

Orang akan makin miskin –tanpa ia sadari- bila mayoritas kekayaannya berada dalam bentuk ASET NON PRODUKTIF  YANG BISA MENGALAMI DEPRESIASI..

Karena Depresiasi lama kelamaan akan merusak semua barang yang dikumpulkannya itu…

Lantas bagaimana dengan Properti?

Bangunan Properti juga mengalami depresiasi, bahkan biasanya cukup besar akibat berbagai kerusakan dari bangunan yang harus diperbaiki..

Dari property, Tanahnya lah yang AMAN DARI DEPRESIASI..

Namun, Bila TANAH itu dibeli dengan harga yang kemahalan, dan suatu saat kita sedang BUTUH UANG (BU), tanah itu bisa terpaksa kita jual dibawah harga belinya..

Pertanyaannya,,

Sudahkah sebagian besar asset kita PRODUKTIF (sebagai kompensasi depresiasi, biar minimal impas) dan aman dari DEPRESIASI?

Bila belum, siap-siaplah menghadapi masa tua yang tidak kita inginkan..

Mau?

 

@dr_BramIrfanda

Tagged: , , , , , ,

Comments: 5

  1. paresma Oktober 20, 2014 at 7:15 pm Reply

    depresiasi itu adeknya depresi ya? 😀 :p

    aku juga pernah baca dan nonton, kata desainer dunia, mereka terheran-heran dgn perilaku konsumtif para perempuan yg hobi shopping dan koleksi barang2 branded, padahal ktika barang tersebut udah ada di tangan pembeli/keluar dari toko, nilai barang itu otomatis menyusut *kalo ga salah denger sih, desainernya bilang gitu. jd pada intinya emang gak guna juga sih ngumpulin barang2 branded dgn alasan “nanti bisa dijual lagi, kan branded”.. itu sih cuma karena faktor gengsi/prestise aja.

    hehe

    • Bram Irfanda Oktober 21, 2014 at 7:04 pm Reply

      banyak manusia yg menjadikan gengsi adl hal yg utama.. 🙂

  2. achen Oktober 28, 2014 at 11:00 pm Reply

    You just so awesome
    You had so many women keepin their eyes on you
    They laid their hope on you, imagining maybe you are they’re one
    Its not your fault anyway
    but letting them having wild imajination of being with you, isnt a good things to do.
    Do it as your heart said
    hope u find your true happiness

  3. Mona November 13, 2014 at 7:50 pm Reply

    Boleh tau dok contoh aset produktif itu seperti apa? Terima kasih

    • Bram Irfanda November 16, 2014 at 3:50 pm Reply

      tanah yang ditanami jati/pohon lain,
      tanah yang disewakan dll 🙂

Tinggalkan Balasan ke paresma Batalkan balasan