Jebakan Ide Kreatif yang Baik

Saat mendengar atau tercetus ide kreatif yang baik, Pernahkah kita berpikir bahwa Ide kreatif yang baik itu mempunyai batasan?

Pernahkah kita terpikir bahwa ide kreatif yang baik itu memiliki bermacam syarat agar ide yang baik itu menjadi sesuatu hal yang baik?

Pernahkah?

Bila tidak, kita harus belajar dari kisah nyata Sheila Ramos, perempuan dengan usia 60 tahun, seorang Warga Negara Amerika..

Ramos, diakhir umur 40an tahun, ingin mengubah kehidupannya yang mulai membosankan karena pekerjaan yang penuh dengan rutinitas..

Setelah berpikir masak-masak, Ramos bertekad untuk keluar kerja dan mulai membangun bisnisnya sendiri..

Sayangnya, ada masalah menghadang,,,

Ia tidak memiliki modal untuk membuka bisnis yang ingin dirintisnya..

Di saat itulah, Ramos tercetus sebuah β€˜ide kreatif yang baik’..

Ide kreatif yang baik itu adalah membeli rumah dengan menggunakan uang hasil tabungannya secara cash, lalu meminjam uang dari bank sebagai modal usaha dengan menggunakan rumahnya sebagai jaminan..

Ramos berpikir, harga rumah akan turun dan pasti naik, sehingga ia tidak akan mengalami kesulitan membayar hutang banknya..

Pada awalnya, semua rencana Ramos berjalan lancar, hingga suatu kecelakaan membuatnya mengalami patah tulang..

Pelanggan yang dulu begitu setia, satu-persatu mulai meninggalkan Ramos karena pelayanan bisnisnya menurun sejak Ramos terkena musibah..

Akibat bisnisnya memburuk, Ramos mulai mengalami kesulitan untuk membayar hutangnya..

Lalu, datang seorang tetangga yang menawari Ramos untuk menambah hutang banknya dengan jumlah hutang yang jauh lebih besar, dengan bunga yang lebih besar dengan jaminan rumahnya yang saat itu harganya terus meningkat..

Karena tidak mempunyai banyak pilihan, Ramos pun menerima saja tawaran hutang yang ditawarkan kepadanya..

Dan dalam tempo satu tahun, Ramos harus menambah lagi hutangnya karena kesehatannya belum pulih benar..

Sayangnya, ide kreatif yang baik itu mempunyai syarat tertentu agar berhasil baik..

Dan syarat berhutang ke bank dengan jaminan rumah atau property adalah jangan sampai nilai properti yang anda jaminkan turun..

Karena bila harga suatu properti turun, angsuran bisa menjadi lebih besar..

Selain mempunyai syarat tertentu, ide yang baik juga mempunyai batasan,,

Sayangnya, Ramos tidak menyadari bahwa Batasan dari ide baik yakni berhutang dengan jaminan rumah yang ditinggalinya adalah adanya ancaman penyitaan rumahnya bila ia tidak bisa membayar angsurannya..

Dan, karena ia berhutang disaat harga rumah sudah mencapai puncak –yang kemudian turun 35% hanya dalam 1 tahun, di tahun 2007-, Ramos tidak dapat berbuah apa-apa untuk bisa menyelamatkan rumahnya dari penyitaan bank..

Di Puncak masa krisis financial akibat KPR subprime, Ramos dan kedua cucunya harus tinggal di tenda, benar-benar di sebuah tenda, bahkan tanpa listrik!

Dari pengalaman ramos ini, kita harus belajar bahwa ide yang baik itu mempunyai batasan dan syarat agar bisa berhasil dengan baik..

Tanpa mengetahui syarat dan batasan agar suatu ide yang baik berhasil dengan baik, ide yang baik bukanlah hal yang baik..

Karena ide yang baik bisa menjadi sesuatu yang buruk..

Pernahkah terjadi demikian di kehidupan anda?

Kami tunggu ceritanya di kolom komentar dibawah.. πŸ™‚

 

@dr_BramIrfanda

Ingin mengetahui Tekanan darah + detak jantung + Irama jantung anda, anda bisa memilih berbagai merk, jenis dan harga Tensimeter digital disini

Tagged: , , , , , , , , , ,

Comments: 6

  1. paresma November 17, 2014 at 9:14 pm Reply

    aku mau sharing boleh? hehe πŸ˜€ ngambil dari cerita dari temen profesor yang ngisi materi kuliah beberapa hari lalu.
    profesor ini tuh pernah melakukan penelitian di jepang, tema penelitiannya itu terkait komunikasi interpersonal yg ada kaitannya sama iklim kerja dan lainnya (ada hubungannya sama psikologi industri organisasi gitu deh).
    nah, prof.waktu itu ngasih liat kurva hasil penelitiannya. kata beliau, idealnya, kesuksesan itu sebaiknya tidak terlalu menanjak pada usia 20-an, melainkan masa keemasan seseorang itu bagusnya ketika berusia 40-an tahun. kenapa demikian? nah jawabannya itu diambil dari contoh kasus temennya yg di indonesia.

    jadi, temennya prof ini (sebut aja Mr. X) itu pengusaha kaya raya sekaligus “darah biru”. di usia 20-25an gitu dia udah sukses banget, punya usaha sana sini… nah kekurangannya cuman satu yaitu belum juga menikah. setelah menikah, Mr. X ini tuh dapat cobaan “sulit punya anak” tapi sebenarnya mereka udah periksa berdua dan normal2 aja. namun, dia kemudian mendapat cemoohan dari keluarganya yg notabene keturunan bangsawan. ada temen deket Mr. X di kerajaan nih yang ngusulin, “Gimana kalo istrimu pinjamkan ke aku?”
    Entah Mr. X ini otaknya lagi nge-heng apa gimana gitu ya, dia setuju aja. Jadi, istrinya itu “dipinjamkan” ke temen-temen dan kerabat kerajaan, dengan kata lain digilir gitu. Jadi, si istri ini pun punya anak 5 dari hasil digilir ke 5 temen/kerabat tadi. Istrinya ini mau-mau aja lagi digilir kayak gitu cuman demi bisa dapat keturunan.

    nah ketika Mr.X ini udah berusia 45an tahun, dia punya masalah sama usahanya/pekerjaannya,
    menjelang lansia, dan anaknya yang 5 tadi udah pada gede, kelimanya anak ini laki-laki semua, dan hartanya Mr.X dikasih2kanlah ke 5 anaknya ini. di akhir, Mr.X ini menyesal karena baru kepikiran, “Ngapain aku kasih semua hartaku ke mereka sedangkan mereka itu bukanlah darah dagingku?” (Jadi, intinya, ngapain juga dia ngasih hartanya ke orang yang sebenarnya bukan darah dagingnya jadi yg enak kan otomatis para bapak yg punya anak ini.

    Mr. X nyesel banget, jadi hari tuanya cuman diisi oleh penyesalan, udah harta habis, hubungan sama istri pun gak pernah harmonis ditambah gak punya keturunan yg bener2 sedarah dengan dia. ngenes banget dah.

    emang sih semua tergantung dari individu masing2. .tapi menurut pandangan mas dok, apakah salah kalo pemuda itu sukses lebih awal? nah, ketika misalnya nih di usia 20-25 tahun itu adalah “masa keemasan” kita, kan ada juga tuh orang yg ambisinya tinggiii banget, sulit direm, sekalinya kena masalah langsung jatuh terpuruk jadi gimana cara mengantisipasi agar ambisi kita bisa tetep stabil biar gak terjadi hal buruk seperti yg dialami Mr. X?
    makasih ^^

    • Bram Irfanda November 18, 2014 at 11:41 am Reply

      wow..

      memang ambisi harus ditahan klo ga malah memakan diri kita, cara nahannya ya dg banyak belajar + banyak sedekah πŸ™‚

      • paresma November 18, 2014 at 4:18 pm Reply

        Berarti hrus rajin sedekah jg yaa…oh
        ok..ok.. thank you

        Iii it’s not a nice story mas dok…itu kisah nyata yg mengenaskan..ga ada bahagia2nya kasian.

        • Bram Irfanda November 18, 2014 at 6:41 pm Reply

          iya-ya.. kasian bgt.. πŸ˜€

  2. paresma November 18, 2014 at 8:03 pm Reply

    hehe seingatku tadi masih ada tulisan “nice story” nya di bawah “wow”

    mungkin pemberi komentarnya salah fokus kali yaa waktu ngetik nice story

    • Bram Irfanda November 20, 2014 at 6:46 pm Reply

      hehe.. iya maaf udah ngantuk πŸ˜€

Tinggalkan Balasan ke Bram Irfanda Batalkan balasan