Calon Presiden 2014 : Kenapa Harus Jokowi?

Pemilu presiden 2014 : Pilih yang Mana? 😀

Beberapa bulan terakhir ini, Topik Capres 2014 dan Pemilu Presiden 2014 sangat ‘hangat’ bahkan terkesan ‘panas’ di telinga Kita..

Bahkan, saking panasnya persaingan diantara dua kubu, banyak sekali fitnah – menyebarkan berita bohong untuk menjelekkan orang atau pihak lain- yang dilontarkan kedua kubu untuk menjaring massa agar mencoblos Capres 2014 yang menjadi jagoannya..

Ada pihak yang membela Prabowo – Hatta, ada pula pihak yang membela Jokowi – JK..

Namun, Banyak pula yang belum mempunyai Pilihan untuk Pemilu Presiden 2014,,

Andakah salah satunya?

Untuk anda yang masih bingung menentukan pilihanlah, tulisan Ini dibuat..

Karena itu, bila anda sudah menetapkan pilihan Capres 2014 mana yang anda akan pilih, tulisan ini tidak cocok bagi anda,  Anda tidak perlu melanjutkan membaca..

Kenapa?

Karena bila anda sudah terlanjur ‘jatuh cinta’ dengan salah satu sosok Capres 2014, Pikiran dan Logika anda (kemungkinan besar) sudah dibutakan rasa cinta anda kepada sosok Capres 2014 Pilihan anda..

Seperti Orang yang sedang jatuh Cinta, hal-hal buruk yang sebenarnya fakta, tidak akan mengubah rasa cinta orang yang sedang jatuh cinta..

Layaknya ungkapan ‘Tai Ayam, rasa daging ayam’..

Atau ‘Tai Kucing, rasa cokelat’.. 😀

Tulisan ini juga tidak cocok dibaca oleh anda yang menggunakan kriteria ‘unik’ untuk memilih Capres 2014, seperti Tingkat ketampanan, Tingkat Kewibawaan, Tingkat kegagahan seseorang, Karena jawabannya sudah jelas..hehe..

Namun, Bila anda ingin memilih Capres 2014 yang terbaik diantara kedua Calon Presiden 2014, silakan lanjutkan bacaan anda..

Untuk memilih mana yang terbaik diantara kedua Capres 2014, saya menggunakan prinsip Good To Great dari Jim Collins, yang berasal dari penelitian dari 1,435 perusahaan bagus di amerika yang diteliti kinerjanya selama 40 tahun, lalu ditemukan HANYA 11 Perusahaan yang menjadi Hebat yang lalu dianalisis faktor-faktor penyebabnya..

Dan prinsip Pertama dari Good To Great adalah First WHO, then WHAT..

agar Indonesia menjadi Negara yang HEBAT, Kita harus MEMILIH PEMIMPIN dan TIM INTINYA YANG BAIK (KARAKTER, KEPRIBADIAN, KINERJA ), BARU KITA PERHATIKAN VISI MISINYA..

Sebelum Kita membuat analisis dan penilaian, Berikut beberapa hal yang menurut kami penting dan wajib kita perhatikan untuk menentukan capres 2014 mana yang lebih baik :

Seperti memilih Jodoh, Kita tidak bisa menilai Capres 2014 dari ucapan, berita, janji, kampanye, yang Capres lakukan saat ia sudah ingin atau mencalonkan diri manjadi capres. Karena Semua ucapan, berita, janji, kampanye, yang Capres lakukan saat ia sudah ingin atau mencalonkan diri manjadi capres hanya TOPENG BAIK yang malah menutupi kepribadian dan akhlak asli si Capres..

Karena itu, mari kita teliti bagaimana kualitas diri dari kedua capres saat ia belum ingin menjadi Capres, karena semua hal yang ia lakukan setelah seseorang ingin menjadi Capres bisa jadi hanyalah TOPENG BAIK, yang bisa sangat menipu kita…

Untuk Prabowo berarti kita harus menilainya sebelum tahun 2004 karena beliau merupakan salah satu dari  Lima calon presiden peserta Konvensi Partai Golkar di tahun 2004 selain Wiranto, Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, dan Surya Paloh.

Sedangkan untuk Jokowi, Kita harus mundur sampai sebelum tahun 2012, karena beliau di tahun 2012 dicalonkan sebagai Gubernur Jakarta, walaupun baru di awal 2014, ia dicalonkan diri menjadi Capres 2014 oleh Partainya..

Untuk menilai kedua Capres 2014 dari sisi WHO (siapanya), saya menggunakan 3 kriteria , yakni 1. Kepribadian, Akhlak, dan Nilai (value) yang dianut 2. Sahabat dan teman yang dekat (anggota TIMnya)  3. Kinerja Masa Lalu

Kepribadian dan akhlak

Akhlak, kepribadian dan nilai-nilai yang dianut bisa dilihat saat seseorang TIDAK MEMPERSIAPKAN DIRI / TIDAK MENGENAKAN TOPENG. Jadi kita bisa menilai Akhlak dan kepribadian ASLI Capres 2014 dari sikapnya sebelum menjadi Capres, sikapnya saat sedang berada pada posisi diatas atau saat ia merasa tidak dilihat oleh orang lain. Dari sinilah kepribadian seseorang yang Asli tampak dan bisa dianalisa.

Untuk Prabowo, Kepribadian asli Prabowo bisa kita lihat di waktu sebelum ia ingin menjadi Presiden, yakni sebelum tahun 2004. Untuk yang baru-baru ini, Kepribadian aslinya bisa kita lihat ketika Prabowo menolak cipika cipiki di Luar acara debat presiden, namun menerima Cipika cipiki saat acara debat presiden sudah diliput di TV Nasional. Dari kejadian ini yang tidak dilihat seluruh penonton debat –saat ia menolak- inilah, tampak jelas kepribadian asli seseorang..

Beruntung, Saya besar di kota Blora, suatu kabupaten di Provinsi Jawa tengah sehingga sepak terjang Jokowi sehari-hari bisa saya baca dengan baik dan analisis JAUH SEBELUM IA DICALONKAN MENJADI GUBERNUR JAKARTA. Secara umum, Jokowi Konsisten melakukan Inspeksi mendadak (Sidak) sendiri, seperti yang dilakukannya saat menjadi Gubernur DKI di awal tahun 2013 (saat ia belum diberitakan menjadi Capres). Bila banyak orang melihat sidak Jokowi hanyalah pencitraan, saya dengan yakin menjawab itu bukan pencitraan karena sejak pertama menjadi walikota solo, hal itu telah dilakukannya. Saat ini, ibu risma , walikota Surabaya juga sangat rajin melakukan sidak, dan bila ada orang yang menyebut tindakan sidak Bu risma merupakan pencitraan, sebagian besar orang Surabaya, termasuk saya, pasti ketawa dan menganggap anda melucu. Hal yang sama berlaku untuk Jokowi..

Kepribadian Jokowi yang Santun juga sangat tampak dari caranya dalam merelokasi para PKL di daerah Banjarsari, Solo, ketika ia masih menjadi walikota solo. Bukan dengan aparat yang melakukan kekerasan, Jokowi malah melakukan ‘Lobi Meja Makan’, yakni dengan mengajak para PKL itu makan di rumah dinas walikota solo. Baru setelah merasa hati para PKL sudah bisa didapatkan lewat makan malam bersama selama 53 kali, Jokowi baru mengutarakan niatnya merelokasi para PKL. Dan jawaban PKL itu tentu sudah jelas : “baik bapak”, walau sebelum ‘Lobi Meja Makan’ itu, para PKL dengan ganas mengancam membakar Kantor wali kota solo bila mereka digusur..

Kesantunan Jokowi ini menurut saya cocok untuk masyarakat Indonesia yang mudah dibakar isu negatif, fitnah, dan prasangka.

Jadi dari segi kepribadian, akhlak dan nilai-nilai yang dianut, saya berpendapat Jokowi lebih baik.

 

Tim Inti (Petinggi Partai dan Teman Koalisi)

Dari prinsip First WHO then WHAT, dari Buku Good To Great, SANGAT PENTING JUGA UNTUK MENCARI ANGGOTA TIM INTI (mitra koalisi dan petinggi partai pengusung) yang HEBAT (BAIK KARAKTER, KEPRIBADIAN, KINERJA )..

Ilmu psikologi menyebutkan bahwa Sahabat dan orang-orang yang terus menerus bertemu dengan Kita bisa mempengaruhi sikap, tingkah laku dan pola pikir dari diri kita. Untuk itu, siapa yang berada di dekat Capres 2014 –yang sepertinya akan masuk Kabinet- harus kita perhatikan..

Sejak awal, SAYA BERJANJI TIDAK AKAN MEMILIH CAPRES yang mau menerima syarat koalisi bagi-bagi kursi menteri -politik dagang sapi- dari ARB..

Jadi, Saya sangat menyayangkan bergabungnya ARB ke dalam koalisi Prabowo, karena jelas-jelas ARB meminta syarat jatah menteri kepada Jokowi yang kemudian dengan tegas ditolak oleh Jokowi..

Selain itu, hadirnya sosok FZ, petinggi partai Gerindra yang merupakan ‘Ring-1’ Prabowo, yang sangat sering melakukan fitnah dan menyebarkan kebencian, juga sangat saya sesalkan.

Di kubu Jokowi, sejak awal secara terang-terangan Jokowi menolak teman koalisi yang mengajukan syarat-syarat tertentu.  Beberapa bulan yang lalu ARB jelas-jelas sangat ingin (hampir) masuk Koalisi Jokowi, namun kemudian Jokowi menolak pinangan ARB karena ARB meminta syarat bagi-bagi kursi menteri, dan ARB malah ditampung dalam koalisi Prabowo..

Selain ARB, sosok Megawati sebagai Ketum PDIP harus sangat dipertimbangkan sebelum memilih Jokowi. Tapi melihat bagaimana Jokowi ketika menjadi Gubernur Jakarta, bisa ‘menari bebas’ sebagai Gubernur tanpa Campur tangan Megawati sebagai Ketum, agaknya hal yang sama bisa kita harapkan dari keduanya bila Jokowi terpilih menjadi Presiden.

Jadi, untuk Kriteria ini, saya berpendapat Jokowi dan Timnya lebih baik..

 

Kinerja (Leadership & Manajemen)

Untuk Prabowo, bisa kita dapatkan beliau merupakan prajurit yang hebat dan mampu menjadi Danjen Kopassus dan panglima Kostrad.

Dalam berbisnis, Prabowo juga moncer dalam mengolah uang, dimana dalam waktu hanya 15 tahun kekayaannya meroket menjadi lebih dari 1 trilyun rupiah. Suatu hal yang hebat bagi seorang Purnawirawan TNI.

Sedangkan Jokowi, Kinerjanya bisa kita lihat  saat Jokowi memimpin Solo. Di pemilihan wali kota solo yang kedua di tahun 2009, Jokowi tidak perlu berkampanye untuk terpilih kembali dengan perolehan suara lebih dari 90% dari seluruh pemilih. Walau akhirnya Jokowi tidak menyelesaikan masa jabatannya di Solo, karena dicalonkan Partainya untuk menduduki DKI 1,  yang harus kita cermati adalah Jokowi masih diharapkan meneruskan kepemimpinannya di Solo sebagai Wali Kota, karena berbagai prestasinya yang memuaskan..

Dalam bisnis, Jokowi juga cukup sukses mengembangkan bisnis mebel hingga bisa mengekspor ke seluruh benua di dunia. Walaupun bila dibandingkan secara head to head dengan Prabowo, Jokowi kalah kelas karena lingkungan bisnis dan mentor Prabowo (yang juga adiknya, Hashim) yang jauh lebih baik.

Karena sama-sama menonjol dalam hal Kinerja, Saya menilai Prabowo dan Jokowi seimbang untuk hal ini..

Kesimpulan : Dari 3 kriteria Calon Presiden 2014 diatas, Jokowi memenangkan 2 diantara 3, Jadi dalam Pemilihan Presiden 2014 minggu depan, Saya akan pilih Jokowi sebagai Presiden 2014 Pilihan saya..

 

Saya Tau, banyak orang, terutama yang banyak dan rajin mengikuti berita Politik –yang sebagian besar hanyalah fitnah yang dimaksudkan sebagai TOPENG NEGATIF-, akan mempertanyakan kebenaran alasan dan kriteria Saya memilih Jokowi..

Untuk itu, berikut beberapa penjelasan logis secara psikologis untuk menjelaskan fitnah-fitnah ke Jokowi (semua penjelasan ini harus anda baca dengan terlebih dahulu melupakan semua fitnah, ketidaksukaan, kebencian  kepada Jokowi yang akan menghalangi anda dari kebenaran) :

 

Jokowi Kurang Komitmen?

Ada hal yang akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak orang yakni Komitmen..

Terutama isu Komitmen Jokowi yang bagi sebagian orang Tidak punya komitmen, karena meninggalkan Solo lalu Jakarta ketika dipilih Parpolnya untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi..

Mari kita lihat bagaimana faktanya :

Ucapan janji jokowi saat kampanye adalah sebagai berikut (silakan cari di youtube ):“Katanya saya tidak ingin menyelesaikan lima tahun. Diisukan gitu, untuk apa? Itu biar masyarakat ragu. Oleh sebab itu, dalam gerakan ini saya sampaikan, Jokowi dan Basuki komit untuk MEMPERBAIKI DKI dalam lima tahun,”

Sedang saat pelantikan Gubernur Jakarta, ia berjanji :  “Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Memegang teguh UUD Negara RI 1945 dan menjalankan segala UU dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti pada masyarakat, nusa dan bangsa,”

Janji Kampanye Jokowi  “ untuk MEMPERBAIKI DKI dalam lima tahun” , sebenarnya secara konteks tidak dilanggarnya bila ia menjadi Capres 2014 , karena bila ia menjadi Presiden, kekuasaan Jokowi malah makin besar untuk bisa memperbaiki Jakarta, karena memang kedudukannya diatas semua PNS dan kepala daerah lain yang beberapa oknumnya suka mempersulit birokrasi di Indonesia.

Malah bagus bukan? 🙂

Dari sumpah Jabatan Gubernur diatas, kita juga tidak bisa dapatkan adanya Janji menjadi Gubernur selama 5 tahun. Selain itu, jabatan Presiden juga merupakan jabatan paling tinggi untuk membangun Indonesia, lalu kita harus khawatir Jokowi mau naik lagi ke jabatan apa? 🙂

Komitmen Jokowi sudah bisa kita lihat dari pernikahannya dengan istrinya yang awet sampai sekarang dan dari sepak terjangnya selama belasan tahun untuk mengembangkan bisnis mebelnya sampai ekspor ke luar negeri, bukannya dibutuhkan komitmen yang besar untuk mencatatkan kedua hal tersebut?

Apa yang dilakukan Jokowi ini, BOLEH menurut Islam. Saya merujuk hadits shohih yang diriwayatkan Imam bukhori :

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah ra, dia berkata: Nabi Saw pernah bersabda kepada saya, “Hai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan, karena jika kamu diberi jabatan atas permintaanmu, maka kamu akan memikul beban yang berat, tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kau minta, maka kamu akan diberi pertolongan. Apabila kamu mengucapkan sumpah akan melaksanakan sesuatu, kemudian kamu mengetahui sesuatu yang lain yang lebih baik, maka bayarkan kaffarah untuk menebus pembatalan sumpahmu, lalu laksanakan sesuatu yang lain yang lebih baik tersebut”. (hadits shohih bukhori no. 6132)

 

Nasib Umat Islam Bahaya di tangan Jokowi?

Di media-media islam terutama media islam Radikal dan Media islam yg disponsori Partai Islam tertentu, banyak sekali memuat berita miring yang menyerang Jokowi, mulai dari serangan bahwa Jokowi didukung Syiah international, Jokowi didukung Waria dan transeksual sedunia, Jokowi dibiayai Konglomerat hitam, Jokowi musuh Islam dll

Tapi apakah benar?

Kebenaran akan hal Ini yang tidak dapat dibuktikan dengan disertai bukti-bukti shahih oleh media yang menuduh..

Jadi, bisa kita simpulkan berita ini FITNAH dan hanya prasangka buruk..

Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [QS. Al-Hujurat : 12]

dari  Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”  (HR. Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563).

Logikanya, Bila Jokowi di janjikan dukungan ARB yang merupakan konglomerat kaya di Indonesia dengan dukungan Partai Golkar sebagai partai pemenang kedua pemilu di seluruh Indonesia, dengan syarat ‘hanya’ menjadikannya menteri utama dan beberapa jabatan menteri untuk partainya, lalu dengan TEGAS Jokowi Tolak. Apakah Jokowi akan menolak juga tawaran dukungan dari Syiah internasional , organisasi Waria dan transeksual sedunia, serta Konglomerat hitam bila ternyata dukungan itu bersyarat?

TENTU, SUDAH PASTI SYARAT-SYARAT MEREKA AKAN JOKOWI TOLAK..

Karena organisasi-organisasi itu TIDAK BERKUASA di Indonesia, tidak seperti kekuasaan bisnis dan pengaruh ARB di Indonesia..

Logika lainnya seperti ini : Bila anda perempuan, lalu anda disukai oleh seorang Gigolo.

Sedangkan bila Anda laki-laki, anda disukai oleh seorang PSK.

Apakah lantas kehormatan dan nilai diri anda berkurang bila disukai oleh orang yang buruk yang TIDAK KITA JADIKAN PASANGAN? Tentu tidak bukan?

 

Jokowi Capres Boneka?

Cap Capres Boneka menurut saya tidak layak ditempelkan kepada Jokowi bila Kita melihat bagaimana Jokowi mengatur Jakarta.

Capres Boneka layak kita sematkan bila Jokowi secara penuh di kendalikan oleh Megawati. Indikator termudah apakah Jokowi hanyalah Capres Boneka Megawati, bisa kita lihat dari siapa Cawapres Jokowi, bila Puan yang notabene Anak kandung Megawati yang menjadi Cawapres (berita yang dulu begitu santer terdengar), sangat bisa kita indikasikan Jokowi hanyalah kendaraan politik alias Capres boneka agar Megawati kembali berkuasa.

Tapi, kenyataannya yang dipilih Jokowi untuk menjadi Cawapresnya malah Jusus Kalla yang notabene berasal dari partai Golkar. Dari karakter Jusuf Kalla yang begitu aktif, independen dan cerdas saat menjadi Wapres pertama dari Presiden SBY, Kita tau sosok Jusuf Kalla Bukanlah sosok yang mudah diatur dalam hal yang buruk (seperti pemanfaatan pemerintahan jokowi oleh Megawati).

Jadi, Penunjukan Jusuf Kalla sebagai Cawapres menghilangkan kekhawatiran saya bahwa Jokowi hanyalah ‘Boneka megawati’..

 

PDIP kan orang2nya Buruk?

Tadi malam, begitu artikel ini diposting, seorang sahabat, ustadz  sekaligus guru spiritual Saya menuliskan tanggapannya yang kira-kira sama panjangnya bila dibandingkan tulisan ini, berargumen bahwa Jokowi berasal dari PDIP, yang notabene Partai dengan Pengurus dan kader yang kebanyakan bisa dibilang buruk..

Menurut saya, Pemilu Presiden 2014 itu Pemilu untuk memilih sosok Presiden 2014, bukan Pemilu Legislatif yang harus memilih Partai dan Orang sebagai anggota legislatif -DPR maupun DPRD-. Jadi, FOKUS KITA DALAM MEMILIH HARUS BEDA..

Jujur saya juga tidak suka dg PDIP, tetapi untuk Capres 2014, saya memilih orang yang terbaik menurut diri saya pribadi, karena itu saya memilih JOkowi..

Seperti jargon yang ramai sebelum Pemilu legislatif 2014, saya pun berpendapat : JOKOWI YES, PDIP NO!

 

Sepertinya penjelasan diatas sudah sangat jelas menggambarkan siapa Capres 2014 yang lebih baik..

Saran saya, gunakan logika , jangan prasangka, apalagi kebencian ketika kita menilai orang lain, karena bila ada prasangka buruk dan kebencian di awal, hasil analisa yang akan kita lakukan hanya akan membawa kita kepada ketidakadilan..

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah: 8)

 

@dr_BramIrfanda

latar belakang tulisan ini :

–       SAYA TIDAK DIBAYAR UNTUK MENULIS INI, TULISAN INI MURNI DARI PIKIRAN & LOGIKA SAYA sendiri

–       SAYA BUKAN PENDUKUNG SALAH SATU PARTAI, BAIK PDIP, GERINDRA DLL. dulu malah sempat menjadi pendukung PKS (bukan kader, apalagi pengurus), tp kemudian TIDAK DUKUNG  PKS lagi setelah LHI jadi Presiden PKS..

–       Saya TIDAK TERTARIK atau sedang BERGABUNG DENGAN PARTAI POLITIK APAPUN, APALAGI MENCALONKAN DIRI untuk menduduki suatu jabatan tertentu, jadi tulisan ini murni TANPA TUJUAN POLITIK.

–       saya TIDAK ngefans pada Prabowo atau Jokowi, karena menurut saya ada yg lebih pantas daripada mereka berdua, jadi tulisan ini bukan karena saya CINTA atau ngeFANS dg salah satu Capres 2014

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Comments: 24

  1. citra Juli 2, 2014 at 3:52 am Reply

    Sesuatu bgt dok…

  2. paresma Juli 2, 2014 at 5:17 am Reply

    jazakallah mas dok ^^ tulisan ini sangat membantu saya yg gak pernah minat nonton/ngikutin perkmbgn politik

    • Bram Irfanda Juli 2, 2014 at 12:21 pm Reply

      sbg PSIKOLOG, sebaiknya mb Paresma ikutan nyimak berita Capres (walau dikit), byk yg diputar balikkan soalnya..:)

      Pandangan seorang Psikolog yg TIDAK MEMIHAK, sgt diperlukan.. 🙂

  3. Neng Eli Juli 2, 2014 at 11:06 am Reply

    siapapun yg kelak terpilih jd Presiden RI smga mrk yg hatinya dekat kpd Tuhan,krn mrk yg menCintai Tuhan dgn baiklah yg dpt menjaga Amanah…Allahumma Aamiin 🙂

    • Bram Irfanda Juli 2, 2014 at 12:19 pm Reply

      aamiin..:)

  4. agus Juli 2, 2014 at 3:21 pm Reply

    Sama dg pendapatku mas, sy dulu partisan pan terus pks skrg Jokowi yes pdi no hehe

    • Bram Irfanda Juli 4, 2014 at 1:14 pm Reply

      harus gitu..:)
      pilpres ya milih capres yg terbaik, bukan milih ssi kehendak partai..:)

  5. paresma Juli 2, 2014 at 4:37 pm Reply

    hehehe… 😀 makasih mas atas masukannya..

    selama ini sy sllu lebih condong utk ngebahas klinis, pendidikan dan sosial. dan selalu masang tembok utk ga bahas politik dulu krn merasa blm kompeten di ilmunya (msih hrs byk belajar). wah, sy jd bljr bnyk dr mas nih soal beginian. analisis mas detil bget. kalah sy hehe 😀

    iya mas, bnyak org2 di FB santer ngefitnah para capres, jd jgnkan sy mau memihak, ngelirik berita soal mereka udh bikin bete -__-

    next time akn nyoba utk ngamatin ya walau dikit2 hehe

    • Bram Irfanda Juli 4, 2014 at 1:12 pm Reply

      bagus itu..:)

      pilihan org beda2, jadi sy menghormati utk fokus di bidang ttt 🙂

  6. paresma Juli 2, 2014 at 4:43 pm Reply

    ohya, izin share di facebook ya mas ^^

    • Bram Irfanda Juli 4, 2014 at 1:10 pm Reply

      dg senang hati…:)

  7. Sri Nuryanti Juli 2, 2014 at 6:51 pm Reply

    Masalahnya, kalo bwt sy sbgai seorg muslim, apabila kita memilih JOKOWI sbg presiden maka kita membiarkan saudara2 kita ϑî DKI Jakarta dipimpin oleh seorang Nasrani. Ingat firman Allah SWT. dok, dlm Q.S Al-Baqarah ayat 120: “Org2 Yahudi ϑαπ Nasrani tdk akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (petunjuk) yg sebenarnya. Dαπ sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak akan lg jadi penolong ϑαπ pelindung bagimu.” Nah itu masalah terbesarnya. Firman Allah itu BENAR adanya.

    • Bram Irfanda Juli 4, 2014 at 1:36 pm Reply

      FIRMAN ALLAH BENAR ADANYA..:) dan memang sbg mmuslim kita tdk dibolehkan memilih pemimpin yg buruk atau yg non islam

      bila Jokowi jadi presiden, AHOK OTOMATIS JADI GUBERNUR, tp itu BUKAN PILIHAN KITA (krn kita tdk memilih ahok jd gubernur)…KRN ITU OTOMATIS..jd bukan DOSA KITA..

      YG LEBIH berat itu, SELURUH INDONESIA (bukan hanya jakarta) diANCAM OLEH CALON pemimpin yg lebih buruk..ini lebih bahaya lg..

      menurut kaidah syariah : “Jika ada dua keburukan, yang harus diperhatikan adalah mana di antara keduanya yang paling besar bahayanya, dengan mengerjakan yang paling ringan di antara keduanya”

      krn kaidah ini, JOKOWI LEBIH BAIK, krn hanya ada 2 pilihan capres yg masing2 punya keburukan..

      namun KEBURUKAN yg terjadi BILA KITA MEMILIH JOKOWI LEBIH SEDIKIT..MAKA SAYA PILIH JOKOWI..

  8. jagur Juli 3, 2014 at 9:40 pm Reply

    Tulisannya keren dok, analisanya masuk akal, thx infonya

  9. ririh Juli 5, 2014 at 7:21 am Reply

    paham dok. tp gencarnya berita ttg jokowi capres boneka, scr dia bukan org nomor satu di partainya dan jg berita ttg penyandang dana untuk kampanyenya yg katanya dr pihak2 yg anti Islam, jg berita ttg rencananya menghapus status agama di ktp dg maksud menyamakan seluruh agama yang ada, membuat ragu untuk memilihnya.
    tp sy jg ga suka sm prabowo dan wakilnya apalagi ada arb.
    apa golput aja ya dok? 😀

    • Bram Irfanda Juli 5, 2014 at 2:54 pm Reply

      isu2 itu cuma isu agar ‘satunya’ yg menang..

      kan sekarang sudah jelas kalo Jokowi dpt dana kampanye dari sumbangan masyarakat, termasuk kita bisa nyumbang Jokowi..

      disumbang Konglomerat hitam apanya??? wong semua kita (rakyat) bisa nyumbang.. 🙂

      Harusnya kita khawatir klo uang kampanye dari duit pribadi, krn berarti uang hilang, jadi ada keinginan utk balikin modal 🙂

      ini rekening Sumbangan Kampanye Jokowi : http://pemilu.metrotvnews.com/read/2014/06/05/249367/8203-donasi-ke-rekening-pemenangan-jokowi-jk-hari-ini-rp26-5-m

      • ririh Juli 5, 2014 at 6:37 pm Reply

        baiklah dokter. trimakasih banyak. 🙂

  10. Mirwan Juli 5, 2014 at 2:25 pm Reply

    SubhanALLAH… Keren tulisannya dok… Sebenarnya ane mau golput , karena tulisan ini ane vote jokowi… Jzkmlh khoir..

    • Bram Irfanda Juli 5, 2014 at 2:55 pm Reply

      sebarkan ya..:)

      Wa anta jazakallah Khoir 🙂

  11. arie Juli 5, 2014 at 11:00 pm Reply

    Tp dokter jgn lupa, bahkan manusia searogan Umar yg pernah ingin membunuh Nabipun, malah jd manusia yg dijamin Surga oleh Allah. Sangat tdk mendasar hny berdaasaarkan tdk mau cipika cipika, lalu bs diaambil kesimpulan ttg kepribadian Prabowo. Satu2nya alasan saya tdk memilih jokowi, krn saya tdk mau jkt dipimpin oleh ahok.

    • Bram Irfanda Juli 6, 2014 at 5:11 pm Reply

      “Satu2nya alasan saya tdk memilih jokowi, krn saya tdk mau jkt dipimpin oleh ahok.” Kalimat ini sudah dg jelas menggambarkan mengapa mb Arie pilih ‘satunya’..

      kisah Umar hanyalah pembenaran / justifikasi mb Arie agar seolah2 milih ‘satunya’ itu lebih baik, padahal JAUH BGT MENYAMAKAN UMAR ra. dg ‘satunya’..

      Umar Ra. dijadikan khalifah setelah berubah jd org yg sgt bertaqwa (catatan : nabi bisa melihat mana org yg munafik, kemampuan yg ustadz2 skrg tdk bisa) , sedangkan ‘satunya’ belum terbukti apa2..

      Jadi Beda bgt..

      Perbedaan sikap antara dilihat org dg saat tdk dilihat org itu adl salah satu cara melihat psikologi manusia, perlu kuliah bbrp jam utk menjelaskan (dan mengerti) akan hal ini, jadi saya mengerti dan paham mb Arie/org lain yg tidak berlatar belakang ilmu psikologi utk tidak mengerti logika pendekatan ini.. (krn sbgn besar org tidak mengerti ilmu ini, makanya saya bahas)

      Tp, namanya pilihan org , sy menghormati pilihan mb Arie..

      Jazakallah Khairon mb Arie..

  12. eka Juli 8, 2014 at 7:06 pm Reply

    Makasih infonya dok. Tadinya saya pilih bukan karena hasil analisa, tapi karena ketidaksukaan saya terhadap kampanye negatif yg sering ditujukan kepada salah 1 capres dan membawa nama agama. Tp setelah saya membaca tulisan dokter, alhamdulillah semakin tercerahkan dan saya semakin yakin atas plihan saya.

  13. Andre Agustus 8, 2014 at 5:31 pm Reply

    analisa yg sangat kritis dan sistematis.memang dokter ini sangat piawai dalam memuat tulisan yg tdk hanya mengandung informasi yg mencerahkan, tp jg edukasi yg menyadarkan. mgkn saya mmg sedikit fanatik, shg secara logika dan fakta yg ada, masih sulit untuk menerima. tapi melalui tulisan ini, saya percaya, bahwa kefanatikan beresiko mengakibatkan ketidakadilan terhadap penilaian sesuatu.makasih dok pencerahannya 🙂

    • Bram Irfanda Agustus 17, 2014 at 10:32 pm Reply

      itu namanya hidayah mas Andre, alhamdulillah..:)

Tinggalkan Balasan