Berdebat Lagi?

Berdebat lagi?

Berdebat adalah salah satu kebiasaan buruk yang sering kami lakukan.

Berikut ini adalah kisah yang melatarbelakangi kenapa kini kami tidak suka lagi berdebat..

Sekarang, Begitu dilantik sebagai dokter umum, seorang dokter harus menjalani masa ‘Pengabdian Negara’ yang dikenal dengan istilah Program Internship..

Kami pun menjalani hal yang sama dan saat itu kami ditempatkan di daerah Sumenep, Madura..

Salah satu kegiatan Internship yang harus dilakukan secara rutin adalah presentasi kasus dari pasien yang telah kami tangani..

Salah satu kebiasan buruk yang dulu kami punya adalah kebiasaan untuk berdebat. Kebiasaan ini pula yang saat itu merusak masa internship kami..

Saat presentasi kasus, kami sering mengajukan pertanyaan yang sulit bin susah yang memang tidak ada dalam presentasi teman sekelompok kami. Selain itu, kami pun sering mendebat teman kami, saat mereka sedang memberikan presentasi kasusnya..

Biasanya, agar tidak mendapat ‘serangan’ pertanyaan dari kami, teman sekelompok kami harus meminta sendiri kepada kami agar terus menutup mulut saat teman kami sedang presentasi..

Bila tidak, akan segera kami serang dengan pertanyaan yang memang sulit dijawab oleh seorang dokter umum..

Kebiasaan bodoh ini kami kubur dalam-dalam ketika kami mulai terkena getahnya..

Ketika itu, kami mendebat dengan keras dan egois sebuah presentasi dari seorang teman kami..

Perdebatan itu kami menangkan..

Namun, akibat perdebatan itu, seorang teman itu menjauhi kami..

Karena dalam satu kelompok hanya terdiri dari sedikit orang, rasa permusuhan dan ketidaksukaan teman kami itu sangatlah terasa di hari-hari kami setelahnya..

Dan rasa permusuhan itu masih ada sampai beberapa bulan setelahnya..

Saat itu, kami belum tau satu hal yang penting,,

Teman kami itu seperti layaknya semua manusia, yang pasti mempunyai harga diri yang akan dibelanya bahkan sampai mati..

Jadi, ketika kami mendebatnya dengan buruk saat dia presentasi, hal itu membuatnya malu dan terhina..

dan pasti hal itu melukai harga dirinya..

Ketika memenangkan perdebatan, kita mungkin merasa lebih cerdas dan lebih pintar..

Namun, semua itu tidak berarti ketika kita jadi dibenci dan dimusuhi oleh orang yang kita debat..

Persahabatan dan kehendak baik lawan bicara kita jauh lebih penting dan berharga dibanding perasaan ‘merasa pintar’ dan kemenangan akademis yang semu karena memenangkan perdebatan..

Saat ini, bila ada kesempatan untuk berdebat, kami akan berusaha menahan diri untuk berdebat..

Dan hal ini ternyata membawa lebih banyak Ketenangan dan kebahagiaan..

Ada kesempatan berdebat lagi?

Tahan diri saja..

Jangan Berdebat..

 

@dr_BramIrfanda

Yang ingin mendapat penghasilan jutaan rupiah setiap bulannya, bisa bergabung dengan kami sebagai #DokterCokelat #CokelatKurmaPco di kota anda, mau?

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan